Tax Treaty Indonesia-Jerman : Fees For Technical Services

Dalam tax treaty pada umumnya, penentuan pemajakan atas fees for technical services atau imbalan untuk jasa teknik, dikelompokkan dalam penghasilan yang bersifat active income. Artinya, pengenaan pajak di negara sumber atas penghasilan tersebut, hanya dapat dilakukan apabila terdapat bentuk usaha tetap di negara sumber.

Hal di atas tidak kita temukan dalam ketentuan tax treaty Indonesia-Jerman (juga beberapa tax treaty yang lain seperti Venezuela, Pakistan, Swiss, Luxemburg). Dalam tax treaty ini, fees for technical services dikelompokkan sebagai penghasilan passive income dalam hal ini royalti. Dengan demikian, pengenaan pajak atas penghasilan ini tidak ada hubungannya dengan ada atau tidaknya bentuk usaha tetap. Seperti halnya penghasilan bunga, baik negara sumber maupun negara domisili dapat mengenakan pajak atas penghasilan ini dengan hak pemajakan yang terbatas di negara sumber.

Apakah Indonesia – sebagai negara sumber diuntungkan atau tidak dengan ketentuan tersebut, jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak. Jika jasa teknik terkait tidak membutuhkan jangka waktu yang lama, Indonesia bisa jadi diuntungkan sebab secara otomatis Indonesia tetap memiliki hak pemajakan. Tetapi jika dilihat dari nilai tarif pemajakan terbatas seperti yang diatur dalam tax treaty Indonesia-Jerman tersebut (7.5% atau lebih kecil dari tarif Pasal 23 yaitu 15%/tarif untuk BUT) boleh jadi Indonesia tidak begitu diuntungkan.

http://konsultanpajak-aaa.com konsultan-pajak.co.cc aris-aviantara.blogspot aviantara.multiply

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: