Segi Tiga Keahlian Pajak

Sebenarnya, segitiga ini berlaku dalam hubungan apapun antara penguasa dan rakyatnya, antara penguasa dan penguasa lain, antara pengusaha yang satu dan pengusaha yang lain, atau antara manusia yang satu dan manusia yang lainnya dalam konteks profesional.

Segitiga itu akan menghubungkan tiga titik, dua titik berkaitan dengan konsepsi, persepsi dan tata nilai kedua pihak yang berinteraksi, dan satu titik lagi mempertemukan keduanya dalam karakter paling mendasar, yaitu fakta bahwa mereka adalah manusia. Jika kita hanya memandang segitiga itu dalam konteks sistem pajak saja, maka dalam hal ini ketiga sudut dari bangunan itu adalah akuntansi, aturan pajak dan manusia.

Dalam sebuah sistem pajak, pihak-pihak yang berhubungan adalah otoritas pajak dan pembayar pajak. Dalam fakta dan praktik di lapangan, hubungan itu akan terbentuk dalam format yang mengaitkan satu manusia dengan manusia lainnya. Ini bisa dimaklumi sebab pajak, sistem pajak dan aturan main yang ada juga di buat oleh manusia-manusia.

Akuntansi sebenarnya adalah wilayah permainan tersendiri di mana para pengusaha alias pembayar pajak berkutat sehari-hari. Pajak adalah wilayah permainan lain, yang secara khusus mewakili kepentingan- kepentingan lain yang lebih besar dan pada saat yang sama juga mencakup wilayah akuntansi. Dalam kenyataannya, cakupan itu begitu luas dan dalamnya sehingga nyaris setiap transaksi dan aktivitas akuntansi pada akhirnya akan bermuara pada aspek perpajakan. Inilah rasionalisasi yang sebenarnya dari tuntutan bahwa pajak semestinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bisnis itu sendiri.

Jika kita melihat perpajakan hanya dalam konteks dua dimensi seperti di atas, maka kita juga pasti bisa memahami bahwa di dalamnya akan ada pertentangan antar kepentingan. Secara ekstrem, akuntansi akan mengupayakan optimalisasi atau maksimisasi kemampuan ekonomis, tapi pada saat yang sama pajak justru punya kecenderungan untuk menyunat kemampuan ekonomis yang telah dicapai sesuai porsinya. Maka, semestinya pengusaha tidak punya pilihan lain kecuali tetap menjalankan misinya dalam konsep yang tax included. Dari sinilah faktor manusia mulai berperan.

Jika pengusaha hanya semata-mata mengandalkan bekal akuntansi, maka ia akan menjadi pihak yang terus-menerus dirugikan. Sebab, apapun yang diupayakannya akan cenderung sia-sia karena tak pernah bisa mencapai misi dan tujuan. Jika pajak hanya semata-mata berbekal aturan pajak, maka ia akan menjadi administrator yang berkuasa tapi buta karena berusaha terus maju tanpa upaya merambah jalan. Dan jika semua manusia yang terlibat di dalam sistem pajak hanya semata-mata berbekal kemanusiaannya, maka sistem dan aturan main tak akan pernah jalan karena dominasi dari selera dan potensi karakter buruk yang ada dalam diri setiap manusia.

Pengusaha yang juga memahami pajak dan kemanusiaan, adalah pengusaha yang mencoba memahami kepentingan lebih besar yang melekat pada sistem pajak. Ia adalah pengusaha yang mencoba memahami bahwa sebagai manusia, ia juga perlu berbagi untuk bangsa. Otoritas pajak yang juga memahami akuntansi dan kemanusiaan, adalah otoritas pajak yang mencoba memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah upaya perambahan dan pemupukan untuk kemudian panen, dan bukan pemangkasan atau pengkerdilan dunia usaha. Ia adalah otoritas yang mencoba memahami bahwa sebagai kumpulan manusia, mereka bekerja demi bangsa. Manusia yang juga memahami akuntansi dan perpajakan, adalah manusia yang mencoba memahami kepentingan bersama dan pentingnya sistem pajak. Ia adalah manusia yang mencoba memahami bahwa sebagai manusia, kita punya cita-cita bersama yang tidak bisa dicapai hanya dengan bekerja sendiri-sendiri.

Apa yang harus dipahami oleh ketiganya, adalah tuntutan bahwa segitiga itu harus tetap berbentuk segitiga sama sisi dan tidak boleh menjadi segitiga yang lain. Apa yang harus dipahami adalah syarat bahwa setiap sudut kepentingan haruslah tepat 60 derajat. Sebab jika suatu sudut bergeser menjadi lebih besar, sudut itu akan menjadikan dua sudut yang lain mengecil dan teraniaya.

Manusialah yang harus menjaganya.

Sumber : Indonesia Tax Review

http://konsultanpajak-aaa.com konsultan-pajak.co.cc aris-aviantara.blogspot aviantara.multiply


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: