SPT dan Keberadaan Berbagai Bagian di Dalam Perusahaan

Mengaitkan perusahaan dan bagian-bagiannya dengan perpajakan, berarti mengaitkan proses administrasi perusahaan dengan perpajakan. Lebih spesifik lagi, ini berarti mengaitkan akuntansi dan sistem akuntansi yang diterapkan perusahaan dengan perpajakan. Dalam hal ini, kita tidak boleh lupa bahwa pertanggungjawaban kewajiban perpajakan perusahaan dalam bentuk SPT, adalah dibangun oleh akuntansi dan sistem akuntansi di dalam perusahaan.

Jika kita memperhatikan bagaimana SPT itu dibangun, maka di sisi perusahaan kita bisa melihat alur informasinya secara sederhana pada bagan berikut.

Dari bagan di atas, kita bisa melihat bahwa jika SPT memang diharapkan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ketentuan perpajakan, maka semua informasinya harus dibangun dengan laporan keuangan dan pembukuan, oleh bagian akuntansi dan pajak secara akurat. Bagian akuntansi dan pajak sendiri, dengan demikian harus mendapatkan informasi yang juga akurat dari berbagai bagian yang lain.

Uniknya, dunia usaha dan bisnis ternyata berkembang menurut konsep pasar, di mana berbagai transaksi direalisir sesuai kesepakatan antar perusahaan yang belum tentu sesuai dengan regulasi perpajakan. Di sisi lain, regulasi perpajakan itu sendiri seringkali lebih lambat berkembang dibanding dunia usaha dan bisnis. Akibatnya, muncul kecenderungan berbagai praktek bisnis dan usaha yang melenceng dari kacamata perpajakan.

Bagian akuntansi dan pajak, harus melakukan adaptasi terhadap berbagai fenomena ini, agar SPT yang dihasilkan bisa sesuai dengan ketentuan pajak. Untuk itu, diperlukan kerjasama dengan berbagai bagian lain. Kerjasama itu sendiri setidaknya berbentuk tax awareness yang memadai di berbagai bidang selain akuntansi dan pajak.

Jika ketentuan perpajakan dihadapkan pada situasi-situasi yang tidak sesuai dengan pengaturan, maka ketentuan perpajakan cenderung akan memaksakan diterapkannya konsep-konsep dari kacamata pajak sendiri. Misalnya, jika suatu Wajib Pajak telah diwajibkan untuk melakukan pemotongan pajak, maka apa pun alasannya – sekalipun alasan bisnis – Wajib Pajak tersebut harus menyetorkan pajak yang semestinya dipotong. Prinsip ini juga harus dipahami oleh bagian lain yang bisa jadi tidak melakukan pemotongan karena desakan rekanan yang ingin pembayarannya “net of tax”.

Aspek pajak dan pemenuhan berbagai kewajiban perpajakan, tidak bisa hanya diserahkan kepada bagian akuntansi atau perpajakan saja. Jika awareness semacam ini tidak optimal di dalam suatu perusahaan, maka masalah biasanya akan muncul di belakang hari, pada saat segalanya sudah terlambat. Yang kena getah, tentu saja bagian akuntansi dan pajak. Bagian ini akan menjadi tukang cuci piring atau tukang bersih-bersih atas masalah-masalah perpajakan yang ada, baik masalah terhadap rekanan, pelanggan atau dengan otoritas pajak sendiri.

Secara kasar kita bisa mengatakan bahwa semua bagian di dalam perusahaan semestinya memiliki tingkat tax awareness yang sama. Semuanya memiliki persepsi yang sama tentang kedudukan pajak di dalam bisnis. Mulai dari bagian pembelian sampai bagian penjualan. Mulai dari kurir sampai bagian penagihan. Mulai dari staf biasa sampai pemegang saham.

http://konsultanpajak-aaa.com konsultan-pajak.co.cc aris-aviantara.blogspot aviantara.multiply


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: